
mengajarkan sederhana kepada penontonnya tentang Kekuatan Do'a.
Kekuatan percaya pada Allah.
Kekuatan pasrah pada
Kehendak-Nya.
Dan semua itu memotivasi
banyak orang.
Hari gini, banyak yang berputus asa. Atau sedikitnya, berkurang imannya kepada Allah. Banyak yang tidak percaya bahwa ia bisa berhasil. Tidaklah sedikit yang percaya bahwa nasib buruk akan menimpanya. Atau, tidak mau meyakini bahwa pertolongan Allah itu bakal datang. Sebagiannya hanya mau percaya bahwa hidupnya ya gitu-gitu aja. Ga akan ada perubahan, sbb otaknya mengatakan ia tidak mungkin berubah. Tanya saja kepada seorang pegawai yang gajinya kurang. Ia akan memandang segala kekurangannya, dan kekalahannya setiap bulan secara keuangan. Tanya juga para pedagang yang kekurangan modal. Baginya, ia bakalan punya keuntungan berlipat-lipat kalau ia bisa memiliki modal tambahan yang berlipat-lipat. Tanya pula mereka yang memiliki hutang segunung, sedangkan pekerjaan dan usaha sdh tidak ada. Apalagi kalau kemudian peluang dan kesempatan juga terasa gelap baginya. Maka, hutang itu katanya tidak akan pernah terbayarkan. Tanya pula kepada mereka yang terkena kanker, atau anggauta keluarganya ada yang kena penyakit kronis, menahun. Ia akan lihat kematian yang cepatlah jawaban yang tepat.
(HR. Abu Daud)
QS Al Anbiya: 87
“Tidak ada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang orang yang zalim. ‘”
Di sela sela kantuk sebelum tidur siang, ibu berbincang bincang dengan Yanti (7 tahun)… Belajar apa hari ini ya? Anak anak terlihat sedang butuh hiburan, jadi silahkan menyingkir dulu Bahasa Arab, Bahasa Inggris dan Matematika.. mari kita berhibur. Semoga Guru ku memberi panduan dalam perbincangan ini…..
“Yanti heran nggak, kenapa sih sampai Nabi Yunus bertaubat di dalam perut ikan paus, memangnya dia salah apa?”
Ada beberapa jawaban dari si anak, tapi semuanya kurang memuaskan……
Akhirnya Yanti berkata, “Nggak tahu Bu.. tapi kalau di film Ikan Nun (kisah Nabi Yunus), setelah keluar dari perut Ikan Paus itu Nabi Yunus makan labu di pulau, terus begitu ketemu dengan kaumnya, semua kaumnya mendadak jadi baik, banyak bangunan yang bagus bagus, semuanya jadi senang, padahal Nabi Yunusnya nggak ngapa ngapain.
“Begitulah hebatnya seorang Nabi…. Nabi Yunus itu merasa berdosa karena banyak dari kaumnya yang belum paham paham juga dan belum mau juga tunduk kepada Allah….”
Yanti berkomentar, “Kok bisa, ya, padahal Nabi Yunus kan sudah mengingatkan kaumnya berkali kali, jadi dia nggak salah, kan Bu? Kalau dia salah, nggak mungkin dia jadi Nabi kan?!!”
“Kita nggak bisa memberi nilai benar atau salah pada Nabi karena apa yang kita fikirkan dan apa yang kita rasakan tidak sama denagn apa yang Nabi Yunus rasa dan fikirkan terhadap Tuhan. Seorang nabi memiliki rasa berTuhan yang jauh lebih besar dibandingkan manusia biasa…..” hmmm ngerti nggak ya, anak ini??? Baru 7 tahun kan Bu…..
“Tapi Bu, setelah Nabi Yunus bertaubat, semuanya jadi berubah baik yaaa….”……Yanti menambahkan.
“Betul, coba kenapa kaumnya berubah jadi baik? Siapa yang mengubah hati kaumnya itu? Jawabnya tentu saja Allah”…. Si Ibu kembali ceria dan nggak ngantuk lagi….”Jadi kalau kita menghadapi suatu masalah dan masalah itu nggak selesai selesai, jangan cepat cepat menyalahkan orang lain sebagai penutup masalah kita….Untuk orang bertaqwa, Allah akan bantu menyelesaikan masalahnya, itu mudah saja bagi Allah. Kalau sampai Allah tidak membantu kita, berarti kita belum layak dibantu, berarti kita masih banyak dosa, berarti kita masih harus terus bertaubat dan memperbaiki diri kita sendiri…. Jangan salahkan orang lain. Yang menjadikan orang orang begitu, itu Allah juga, sebagai pelajaran untuk kita….”….udah tidur belum ya, si Yanti…..? rupanya masih bangun. Coba berikan lewat contoh.
“Misalnya, Yanti suka tegur Kiyah kan, kalau Kiyah belum cuci tangan, atau ambil mainan Yanti belum izin, dll…..Terus si Kiyah, nurut nggak?”… “Kadang nurut, kadang nggak.. tapi banyaknya enggak sih…..”
“Kalau Kiyah nggak nurut, Yanti ngapain, marah?”……si Yanti diam….
“Nah, kalau mau ikut jalannya Nabi dan Rasul serta orang bertaqwa, Yanti harus banyak bertaubat dan memperbaiki diri… kalau Yanti marah, Tuhan nggak akan mau bikin Kiyah nurut sama Yanti karena Allah nggak suka sama orang yang marah…. Lihat saja Rasulullah. Rasulullah nggak pernah marah walaupun Rasul disakiti oleh orang kafir Quraisy… malah Rasul mendoakan yang baik untuk mereka dan keturunannya…..Kalau Yanti buat seperti itu Insya Allah, Kiyah akan Allah buat jadi baik… Yanti pun jadi disayang oleh Allah…. Begitu caranya orang bertaqwa bisa mendapat banyak kemenangan…..Coba yuk sekarang ngaji QS An Nashr….”….
Begitulah cerita di siang hari ini….semoga apa yang kuceritakan pada anakku tidak salah… semoga Guruku memberkatinya, semoga Allah meredhoinya, Amiin.
Saya menginginkan sekolahan dimana saya punya anak didik, bisa menghafal al Qur'an, dan mengerti apa yang dihafal, sekaligus berkembang otaknya dan bisa menjelaskan tentang apa yang ia pelajari. Lalu saya membayangkan, saya memiliki sendiri metode menghafal al Qur'an yang biasa saja, tidak super cepat, tapi berguna. Istilah saya mah, terpakai. Saya coba jajal-jajal saya punya cara menghafal, dijadikan cara anak-anak didik saya menghafal. Seperti makan kerupuk, mereka makan dikit-dikit. Saban hari 2-3 ayat saja. Atau 4-5 ayat saja. Ngikutin irama shalat wajib. Tapi setiap mereka dapat 1 ayat, mereka lalu berlarian ke perpustakaan buku dan perpustakaan digital. Mencari referensi tentang 1 ayat yang dipelajari itu. Saya membayangkan, mereka dapat menghafal 1 ayat tsb dengan sempurna. Sebab hafalannya, sangat natural. Sesuai dengan nafas belajar al Qur'an; perlahan demi perlahan. Umpamanya, mereka belajar menghafal ayat ke-77 surah Yaasiin. Mereka mampu menghafal dengan baik. Habis itu, mereka mencari asbaabun nuzuul dan hal ihwal yang trkait dengan ayat itu. Bahkan ketika mereka disuruh maju untuk menjelaskannya, mereka mampu menjelaskan dalam 2 bahasa. "Awalam yarol insaanu... Apakah manusia tidak melihat... Does not man see... Annaa kholaqnaahu... Bahwasanya Kami menciptakannya... That we created him... Min nuthfatin... Dari nuthfah... From nuthfah, male and female sexual discharge... Dst". Sudah begitu, mereka punya makalahnya. Baik yang ditulis secara pribadi maupun berkelompok. Sehingga mereka punya record secara akademis tentang apa yang mereka pelajari. Dan tentu saja, kalo percepatan anaknya bisa dipacu, ya kita pacu sampe maksimalnya. Namun, ibarat mobil, kecepatannya tetap diatur. Supaya beraturan. Bahkan saya membayangkan, mereka bisa hidup dengan al Qur'an. Bagaimana al Qur'an kemudian ada di hati anak-anakdidik saya, dan tercermin kepada perilaku. Misal, mereka paham dan tahu, bahwa Allah Maha Melihat... Mereka hafal dan tahu di mana letak-letaknya ayat yang bertutur bahwa Allah Maha Melihat. Lalu mereka berjalan, belajar, hidup, dengan pengetahuan yang yakin bahwa Allah melihat seluruh gerakan dia. Mereka belajar tentang Allah Maha Mendengar. Mereka hafal, paham, tahu, di mana letak2nya ayat-ayat yang bertutur tentang bahwa Allah Maha Mendengar. Lalu telinga mereka bekerja penuh dengan satu pengetahaun yang menjadi iman mereka, bahwa tidak boleh mereka mendengar sesuatu yang membuat Allah menjadi tidak ridho atas pendengarannya. Mereka belajar tentang ayat-ayat yang mengajarkan kecintaan, kepatuhan, sama orang tua. Lalu, sebagai anak, mereka kemudian tumbuh sebagai anak yang taat, cinta sama orang tua, mau mendoakan orang tua, dan berdedikasi kepada orang tua. Al Qur'an, tidak sekedar jadi pemahaman, tapi juga perilaku. Insya Allah ini tidak sulit. Sebab belajarnya tidak serta merta. Ada kurikulum tersendiri, selangkah demi selangkah. Sehingga mereka bisa maju dengan tertata. Ibarat pondasi, kalo mereka kuat, maka mereka akan mengembangkannya sendiri. Saya pun membayangkan bahwa saya bisa menjadikan suara mereka, dirindukan oleh mereka sendiri. Dengan mempelajari qiraat2 sederhana, gaya-gaya melantunkan al Qur'an yang sederhana, tidak belagu, tidak sombong, namun syahdu dan merdu didengar. Saya membayangkan, kelak mereka menjadi imam di dalam keluarganya. Atau menjadi ibu bagi anak-anaknya, andai dia santri didik perempuan, maka makmum2nya betah diimami dia, sebab suaranya yang enak. Saya membayangkan, mereka kemudian dirindukan juga suaranya, sebab keluar bukan saja dari mulut yang memang menyenangi al Qur'an, dan bisa qiraat (lagu2 cara membaca al Qur'an), melainkan karena mereka bisa membacanya dengan hati yang ikut membaca. Kenapa begitu? Sebab mereka paham artinya, paham maknanya, bahkan paham kosa kata per katanya. Bukankah kalau paham, akan menjadi kesyahduan dan kenikmatan tersendiri. Apalagi mereka kelak saya bayangkan bisa membaca bukan sekedar dengan lisannya saja, namun seluruh gerak aktifitas fisiknya ikut membaca. Semua sendinya bekerja ketika lisannya membaca satu dua ayat al Qur'an. Suara itu, adalah suara anak didik kami di Daarul Qur'an. Begitu saya membayangkan. Suara yang insya Allah mampu membuat Allah berkehendak menurunkan rahmat bagi ayah ibunya, bagi saudara atas bawah kiri kanannya, bagi kawan2nya, bagi saudara-saudaranya, bagi lingkungannya. Walaupun tdk sempurna, sebab yang sempurna akhlaknya hanyalah Nabi & para malaikat, namun, perilakunya anak-anak, akhlaknya anak-anak, tidak jauh-jauh dari al Qur'an. Al Qur'an sdh di hati mereka, dan mereka menjaganya. Perkuliahan Wisatahati mulai digelar di Sentra-Sentra Kuliah di beberapa tempat. Insya Allah semakin banyak lagi masyarakat yang tertarik untuk ikut serta dengan kami menjadi pemilik dan penyelenggara Sentra Kuliah Wisatahati. Salah satu sesi yang dipelajari adalah shalat dhuha. Saya membayangkan, ga usah muluk2. Saya kepengen di sekolah Daarul Qur'an, anak-anaknya begitu mencintai shalat dhuha. Untuk kepentingan ibadah dirinya, dan untuk keselamatan, kesejahteraan, kejayaan dirinya juga, yang insya Allah maslahatnya berpengaruh tuh energi shalat dhuha nya bagi dia punya ayah ibu dan keluarga serta lingkungannya. Sebab mereka mempelajari segala seluk beluk shalat dhuha, maka kewajiban shalat dhuha di sekolah, di pondok, di pesantren Daarul Qur'an, menjadi enteng mereka rasakan. Ketika mereka bertakbir dua rakaat, mereka paham dan tahu, bahwa dengan shalat dhuha dua rakaat, mereka kemudian berhak atas pahala dari 1x haji dan umrah yang makbul, tanpa pergi ke tanah suci! Ketika mereka bertakbir dua rakaat saja, maka mereka tahu, mereka tidak akan dicatat sebagai orang2 yang lalai. Setiap sendi dituntut untuk bersedekah. Sebab istilahnya, kita ini minjem fisik/tubuh dari Allah. Kudu bayar gitu dah. Nah, shalat dhuha 2 rakaat, cukup sebagai bayaran sedekah dari pagi sampe pagi lagi. Lalu, anak-anakdidik, sebelumnya belajar, mereka sudah siaga keluar kamar asrama dalam kondisi berwudhu. Mereka bergegas kumpul di masjid, untuk shalat dhuha. Berharap ada keberkahan yang turun kepada mereka dan keluarga. Mereka, para santri, para anak didik, saya rindukan menjadi anak-anakyang shalat dhuha, seperti shalat wajib saja. Sebab fadhilahnya yang masya Allah besarnya. Ketika manusia bisa shalat 4 rakaat, Allah menjanjikan akan mencukupkan rizkinya. Belum lagi segudang fadhilah yang masya Allah, masya Allah. Lalu, terjadi pemandangan yang indah. Sehabis mereka turun olah raga, atau setoran hafalan, atau sarapan, mereka balik ke asrama masing2 bagi yang boarding. Mereka mandi, dan itu, mereka keluar dalam keadaan siap wudhu, siap shalat dhuha. Bersama2 anak-anak yang lain, mereka berdoa dan mendoakan yang lain. Bagi yang tidak boarding, mereka ini datang ke sekolah pun sama, sdh dlm keadaan berwudhu. Tinggal lepas sepatu istilahnya, mereka lalu menegakkan shalat dhuha. Ini, subhaanallaah. Saya sering ngegodain kawan-kawan kepala-kepala sekolah dan guru-guru sekolah-sekolah konvensional yang tidak ada shalat dhuhanya. Saya tanyakan kepada mereka, sesuatu kalo tidak jadi kebiasaan, apakah bisa menjadi perilaku? Jawabanya, tidak. Kedua, apabila tidak ada ilmunya, apakah bisa menjadi dorongan berbuat sesuatu? Jawabannya, tidak. Nah, saya katakan kepada mereka, sistem pendidikan konvensional, malah kita lihat tidak memberikan mereka ruang untuk berkenalan dan membiasakan diri dengan shalat dhuha. Tidak dikenal waktu untuk shalat dhuha. Dan ini bahaya loh. Dari SD s/d SMU saja, mereka sudah tidak akan dhuha selama 12 tahun! Karatan tuh ga dhuhanya. Susah untuk ngawalin. Maka, saya membayangkan betul, bahwa anak-anakdidik, bakal terbiasa benar shalat dhuha. Saya membayangkan, anak-anak didik Daarul Qur'an, gagah-gagah. Mereka dengan stelan jas dan dasinya, berbaris rapih menghadap Allah sebelum mereka turun belajar. Mereka harus terbiasa shalat dhuha, sebagai wujud menghadap Allah dulu baru beraktifitas dunia. Hiruk pikuknya dunia, tidak mengganggu mereka untuk tidak dhuha. Apapun yang terjadi, tetap kudu dhuha dulu. Disiplin. Doa dhuha yang indah, wirid-wirid dhuha, dilantunkan sama anak-anakdidik, tanpa mereka khawatir mereka menjadi bodoh karenanya. Jam belajar sama sekali tidak diganggu. Ini hanya butuh seni mengatur waktu sebaik-baiknnya, sehingga bisa terbagi mana waktu untuk belajar dan mana waktu untuk shalat dhuha. Saya masih punya bayangan-bayangan terhadap santri-santri Daarul Qur'an, anak-anak didik Daarul Qur'an, yang belum sempat saya tulis; Mereka sebelum azan, sudah dalam kondisi siap di masjid. Menyambut Allah. Biasanya, orang modern, membuat Allah menunggu dia untuk shalat. Ini, diusahakan shalat di awal waktu. Mereka harus belajar mementingkan Allah ketimbang urusan2 dunia. Mereka bersahabat dengan lingkungan, sopan terhadap kawan2, tamu2, orang2 kampung sekitar. Mereka belajar di dalam lingkungan yang asri, hijau, namun didukung oleh gedung dan fasilitas yang modern; asrama yang bersih dan teratur, makanan yang bergizi, gedung2 dengan fasilitas yang luar biasa bagusnya, sport center yang lengkap, tapi masih ada sawah, kawasan agro wisata, agro industri, dan masih ada kebun2 buah yang menyejukkan mata. Mereka bisa menghafal asmaa-ul husnaa dan melantunkannya dengan bacaan yang indah. Dan mereka menghayati betul nama2 Allah itu dengan baik. Mereka menguasai bahasa internasional dengan baik. Minimal arab dan inggris; bicara, mendengar dan menulis. Mereka menguasai IT, komputer, dan teknologi secara terapan. Mereka kuat fisiknya dengan serangkaian latihan fisik yang tidak berat namun teratur. Pertumbuhan fisik mereka bagus2, sbb ditopang dengan pemacuan pertumbuhan berdasarkan ilmu dan pengalaman. Mereka cinta ibadah2 sunnah; shalat2 sunnah tahajjud, puasa senen kamis, dll. Mereka sayang sama orang tua, dan keluarga. Wah, masih banyak lagi impian2 tentang Daarul Qur'an... Yang ternyata sekarang itu tidak lagi jadi mimpi. Secara terbuka, subhaanallaah saya berterima kasih kepada Allah, bahwa Daarul Qur'an sedang menuju pada IMPIAN YANG MENJADI KENYATAAN. Dan Daarul Qur'an terbuka buat siapa saja. Insya Allah.
Sumber : wisatahati.com dan website lainnya